Tuesday, August 18, 2009

bulatuk in da morning

BulAtuK In Da MorniNG

January 30th, 2007 by chokim

Mungkin bagi kalian yang berada pada masa akhir-akhir kuliah pernah muncul satu pertanyaan , buat apa sih skripsi dan apa gunanya ? (tong nanya ka urang da urang ge teu nyaho, cape deh….) yang saya tahu dan saya alami skripsi hanya sebagai suatu tiket menuju kelulusan, dan sebagian besar tidak benar-benar berguna bagi masyarakat.(coba lo pikir kalo masyarakat dikasih copy-an skripsi paling jadi bungkus bala-bala atau di kilo masih mending ngasih tts bisa diisian bari ngaronda). Truzz yang saya tahu dan lihat skripsi menjadi suatu pelestarian budaya copy-paste, budaya ngawaduk (bagi yang ga ngerti basa sunda ngawaduk= berbohong, jadi dalam konteks ini berbohong dalam penelitian skripsi dengan data yang mengada-ngada.begitu). dari hasil penelitian saya dan pengamatan atas teman-teman saya di kampus (gaya lah meneliti), 80% mahasiswa yang mengerjakan skripsi, sebagian besar isi skripsinya nyontek dari skripsi jadul(jaman dulu) yang tema atau judulnya hampir sama. Satu contoh kasus teman saya sebut saja namanya Ujang X, (bukan nama sebenarnya(nya he’euh atuh saha nu rek mere ngaran Ujang x)) beliau nih lulus dengan IPK 3, 5 , ketika ditanya soal skripsinya dia eh beliau ini ga ngerti sama sekali, ternyata skripsinya hasil plagiat dari skripsi seniornya yang udah lulus dahulu kala, bukan nyontek lagi tapi beber-bener sama, dan gak ketahuan sama dosennya ( sialan kenapa di jurusan urang kanyahoan wae nya ). Nah itulah realitas yang terjadi di dunia perguruan tinggi Indonesia tepatnya di Bandung ( eh sumedang deng jatinagor mah ) tepatnya lagi di U.N.P.A.D (universitas Padalarang) dan persisnya lagi di Fakultas Ilmu Santet Dan Ilmu Pelet. Jadi apa tujuan saya ngabulatuk (=ngocoblak=ngawangkong= apa yah basa indonesianya ngomong teu puguh lah ), tujuannya mah cuman satu iseng dan emang saya hobi ngabulatuk teu tentu kitu, tapi mungkin saya cuman mempertanyakan, apakah skripsi masih efektif dijadikan sebagai suatu ukuran apa yang kita pahami dan dapati eh dapatkan selama kuliah, dan dijadikan sebagai penentu kelulusan sarjana ? sayah kira tidak yach jawabannya, contohnya saja teman saya yang beletnya (= bodoh) minta ampun dan kalo ngomong sama beliau kaya ngomong sama mbe badot, bisa lulus duluan. sementara itu saya yang rada Pinter saeutik (ceuk sayah mah, ngan males hungkul) ngak beres-beres skripsi (Bab 1 we digugulung tibaheula). Pokona mah inti tulisan ini adalah kekesalan sayah karena gak lulus-lulus hehehe….. Jadi bagi kamu yang baca tulisan ini, suruh siapa sayah ngabulatuk dibaca hehehe….. Tapi yang penting mah gaya kalo ke kampus bawa map skripsi (jiga nu he’euh kitu). (maaf kalo rada lieur, bahasanya rancu da saya mah urang sunda jadi memakai E.Y.D (ejaan yang disundakan) wassalam Chokim)

Bandungku sayang, Bandungku malang !!

Saya teringat ketika saya SD dulu, berjalan menyusuri seputaran jalan Gatot subroto, Laswi, Dipenogoro, merdeka lalu menuju jalan Ganesha merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan, karena saat itu Kota Bandung masih memiliki hawa yang sejuk dengan pepohonan yang rindang sepanjang trotoar jalan. Lalu pada kesempatan lain bersepeda santai menuju lapangan gasibu terasa begitu nyaman karena lalu lintas yang tidak terlalu padat.


Tapi seiring dengan perubahan waktu Bandungku pun kini berubah, Bandung tidak lagi sejuk seperti dahulu, tidak lagi nyaman bagi orang yang sengaja ingin berjalan kaki dan tidak lagi menyenangkan menyusuri jalan dengan sepeda karena kemacetan jalan di sana-sini. Apa yang terjadi dengan Bandungku sekarang?
Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota Wisata itulah sebagian julukan Kota Bandung yang memang di pengaruhi oleh sejarah panjang kota Bandung. Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pernah ada Rencana menjadikan Kota Bandung sebagai Ibu kota Hindia Belanda, sebagai persiapan pemindahan itu kota Bandung dipercantik, infrastruktur diperbaiki dan gedung-gedung bercitarasa Eropa banyak didirikan dan sampai sekarang masih dapat kita lihat peninggalannya seperti sepanjang jalan Asia Afrika dan Braga yang masih menjadi salah satu daya tarik kota Bandung.


Daya tarik itulah yang menyebabkan Bandung menjadi Kota Wisata, dengan komoditas unggulannya yaitu wisata Belanja. Bandung merupakan pusat barang-barang berkualitas dan murah, ada beberapa tempat yang memang sudah sejak lama terkenal sebagai area belanja di Bandung seperti Cibaduyut jika ingin mencari sepatu, Cihampelas Jika ingin mencari Jeans dll, atau makanan-makanan yang khas seperti sorabi imut, Brownies kukus, Batagor dan sekarang ditambah lagi dengan menjamurnya factory-factory Outlet yang menyebar hampir diseluruh penjuru Kota Bandung.


Berkembangnya pariwisata di Kota Bandung menarik lebih banyak lagi Wisatawan untuk datang ke Kota Bandung apalagi jarak Bandung jakarta yang sekarang bisa ditempuh hanya dalam 1,5 jam setelah adanya tol Cipularang. Perkembangan Bandung seperti ini yang sedikit Banyak menyumbang terhadap kemacetan jalan di Kota Bandung dan Pencemaran Udara sehingga menyebabkan hawa Bandung tidak Lagi sejuk. Sebagai orang asli Bandung, saya bukannya tidak bangga dengan perkembangan wisata kota Bandung seperti ini apalagi jika bisa menambah Pendapatan Asli Daerah(PAD) kota Bandung, tetapi yang saya sesalkan disini adalah pihak pemerintah yang saya anggap kurang bisa menyeimbangkan antara pertumbuhan kota dengan kelestarian alam, karena yang saya lihat selama ini pemerintah daerah terkesan hanya berusaha mengambil keuntungan dengan membangun pusat belanja di sana-sini tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan kebutuhan akan jalur hijau.


Sebagai contoh dalam Perda nomor 2 tahun 2004 tentang tata ruang wilayah disebutkan bahwa jalan dago diperuntukkan sebagai jalur hijau, tetapi sejauh yang saya lihat saat ini jalan dago penuh dengan Factory outlet, mal, restauran dsb dengan jalur hijau yang di ubah menjadi tempat pedagang kaki lima berjualan.


Satu masalah lagi yang dihadapi kota Bandung adalah masalah kemacetan jalan, yang sekarang sudah sangat parah. Hal tersebut disebabkan karena kota bandung hanya memiliki luas jaringan jalan sebesar 4%, padahal seharusnya sebuah kota sebesar bandung minimal mempunyau luas jarimngan jalan raya sebesar 15%. Hal tersebut mengakibatkan pada saat tertentu seperti Long Weekend, jalanan Bandung tidak dapat menampung kepadatan lalu lintas dari para pendatang yang ingin berwisata di kota Bandung.


Jadi, hal tersebut merupakan PR yang harus dipikirkan oleh Pemerintah daerah Kota Bandung, untuk bagaimana mengembalikan Kota Bandung menjadi kota kembang dan Bukannya ”kota Kambing”, sehingga Bandung dapat tertib, aman, nyaman, bersih, dan Hijau.