Tuesday, August 18, 2009

Bandungku sayang, Bandungku malang !!

Saya teringat ketika saya SD dulu, berjalan menyusuri seputaran jalan Gatot subroto, Laswi, Dipenogoro, merdeka lalu menuju jalan Ganesha merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan, karena saat itu Kota Bandung masih memiliki hawa yang sejuk dengan pepohonan yang rindang sepanjang trotoar jalan. Lalu pada kesempatan lain bersepeda santai menuju lapangan gasibu terasa begitu nyaman karena lalu lintas yang tidak terlalu padat.


Tapi seiring dengan perubahan waktu Bandungku pun kini berubah, Bandung tidak lagi sejuk seperti dahulu, tidak lagi nyaman bagi orang yang sengaja ingin berjalan kaki dan tidak lagi menyenangkan menyusuri jalan dengan sepeda karena kemacetan jalan di sana-sini. Apa yang terjadi dengan Bandungku sekarang?
Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota Wisata itulah sebagian julukan Kota Bandung yang memang di pengaruhi oleh sejarah panjang kota Bandung. Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pernah ada Rencana menjadikan Kota Bandung sebagai Ibu kota Hindia Belanda, sebagai persiapan pemindahan itu kota Bandung dipercantik, infrastruktur diperbaiki dan gedung-gedung bercitarasa Eropa banyak didirikan dan sampai sekarang masih dapat kita lihat peninggalannya seperti sepanjang jalan Asia Afrika dan Braga yang masih menjadi salah satu daya tarik kota Bandung.


Daya tarik itulah yang menyebabkan Bandung menjadi Kota Wisata, dengan komoditas unggulannya yaitu wisata Belanja. Bandung merupakan pusat barang-barang berkualitas dan murah, ada beberapa tempat yang memang sudah sejak lama terkenal sebagai area belanja di Bandung seperti Cibaduyut jika ingin mencari sepatu, Cihampelas Jika ingin mencari Jeans dll, atau makanan-makanan yang khas seperti sorabi imut, Brownies kukus, Batagor dan sekarang ditambah lagi dengan menjamurnya factory-factory Outlet yang menyebar hampir diseluruh penjuru Kota Bandung.


Berkembangnya pariwisata di Kota Bandung menarik lebih banyak lagi Wisatawan untuk datang ke Kota Bandung apalagi jarak Bandung jakarta yang sekarang bisa ditempuh hanya dalam 1,5 jam setelah adanya tol Cipularang. Perkembangan Bandung seperti ini yang sedikit Banyak menyumbang terhadap kemacetan jalan di Kota Bandung dan Pencemaran Udara sehingga menyebabkan hawa Bandung tidak Lagi sejuk. Sebagai orang asli Bandung, saya bukannya tidak bangga dengan perkembangan wisata kota Bandung seperti ini apalagi jika bisa menambah Pendapatan Asli Daerah(PAD) kota Bandung, tetapi yang saya sesalkan disini adalah pihak pemerintah yang saya anggap kurang bisa menyeimbangkan antara pertumbuhan kota dengan kelestarian alam, karena yang saya lihat selama ini pemerintah daerah terkesan hanya berusaha mengambil keuntungan dengan membangun pusat belanja di sana-sini tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan kebutuhan akan jalur hijau.


Sebagai contoh dalam Perda nomor 2 tahun 2004 tentang tata ruang wilayah disebutkan bahwa jalan dago diperuntukkan sebagai jalur hijau, tetapi sejauh yang saya lihat saat ini jalan dago penuh dengan Factory outlet, mal, restauran dsb dengan jalur hijau yang di ubah menjadi tempat pedagang kaki lima berjualan.


Satu masalah lagi yang dihadapi kota Bandung adalah masalah kemacetan jalan, yang sekarang sudah sangat parah. Hal tersebut disebabkan karena kota bandung hanya memiliki luas jaringan jalan sebesar 4%, padahal seharusnya sebuah kota sebesar bandung minimal mempunyau luas jarimngan jalan raya sebesar 15%. Hal tersebut mengakibatkan pada saat tertentu seperti Long Weekend, jalanan Bandung tidak dapat menampung kepadatan lalu lintas dari para pendatang yang ingin berwisata di kota Bandung.


Jadi, hal tersebut merupakan PR yang harus dipikirkan oleh Pemerintah daerah Kota Bandung, untuk bagaimana mengembalikan Kota Bandung menjadi kota kembang dan Bukannya ”kota Kambing”, sehingga Bandung dapat tertib, aman, nyaman, bersih, dan Hijau.

No comments: