Sunday, April 15, 2007

IPDN ?


Siang terik di jalan raya jatinangor, entah kenapa saat motorku melaju di depan IPDN tiba-tiba aku ingin berhenti. Saat itu aku teringat berita yang aku baca di koran pagi ini " Pembunuhan di IPDN terjadi lagi" .
Aku berhenti tepat di pinggir gerbang IPDN, suasana saat itu tampak normal dengan penjaga yang tegap berdiri di posnya, dan dari luar tampak serombongan praja berjalan dengan kompak, di depan aku lihat patung praja berdiri tegap menatap dengan gagah dengan mata yang dibuat tegas, berkarisma tetapi tetap meneduhkan. Di dalam hatiku berpikir " mungkin sang perancang patung memahat sambil membayangkan dan berdoa agar praja menjadi sosok seperti patung yang dibuatnya, patung calon pamong dan abdi masyarakat".
Sungguh getir saat melihat kenyataan yang terjadi ternyata IPDN GAGAL mencetak praja-praja pamong masyarakat, IPDN hanya bisa mencetak ahli-ahli bela diri dan aktor-aktor Smackdown.
"Lucu memang" saat itu dalam benakku, " kenapa ngak di ganti aja patung praja sama patung Rambo, mungkin lebih cocok hehe..". berita yang aku baca pagi ini, tahun kemarin, tahun kemarinnya lagi dan tahun 2003 membuat aku berpikir seperti itu, praja yang di biayai kuliahnya, di gaji, di beri tempat tinggal, dan di fasilitasi kampus yang luar biasa lengkap dan luasnya dari uang negara (uang rakyat) ternyata di didik menjadi rambo-rambo calon diktator yang hanya bisa membuang-buang uang rakyat.
Sayang memang, Praja-praja IPDN adalah individu-individu yang unggul, untuk masuknya saja melalui serangkaian test yang luar biasa ketat dan sarat-sarat dengan kualifikasi yang tinggi, tetapi akibat dari sistem manajemen dan pendidikan yang salah keluar menjadi individu arogan, kasar dan otak yang dimiliki berubah berkamuflase menjadi otot-otot di antara ketiaknya.
Saya garis bawahi sistem sebagai penyebab kekerasan ini, dan saya menyalahkan sistem karena memang sistem pendidikan yang tifdak mendidik yang berperan besar dalam hal ini. Pengajaran berbasis militer yang salah di sasaran, pengajaran berbasis militer yang asal keras tanpa aturan. Militer sendiri pun punya aturan, punya batasan. Dan apa yang dihasilkan oleh pendidikan seenaknya ini, apakah mungkin pendidikan seperti ini menghasilkan seorang birokrat yang mengayomi rakyatnya ?

No comments: